4.30.2013

BAB I


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Jika orang awam mendengar istilah belajar, biasanya pikiran mereka tertuju pada sekolah. Mereka beranggapan bahwa belajar hanya terjadi di sekolah yang berhubungan dengan mata pelajaran. Belajar itu harus ada guru dan buku. Namun pada hakikatnya belajar itu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Arief S. Sadiman, R. Rahardjo, Anung Haryono, Rahardjito (2011: 2) berpendapat bahwa ”belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga ke liang lahat nanti. Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya”. Solchan T. W. Et al (2009: 1.39) juga berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku siswa secara tetap melalui pengalaman, pengamatan, dan bahasa, yang dilakukannya secara aktif. Hasil belajar atau perubahan tingkah laku itu berkaitan dengan pengetahuan, sikap atau ketrampilan yang dibangun siswa berdasarkan apa yang telah dipahami atau dikuasai sebelumnya.
1
Agus Taufiq, Hera L. Mikarsa, Puji L. Prianto (2010: 5.4) menyimpulkan  bahwa belajar adalah aktivitas atau pengalaman yang menghasilkan perubahan  pengetahuan, perilaku, dan pribadi yang bersifat permanen. Sedangkan Skinner (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2002: 9) menyebutkan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun. Namun tidak semua perubahan tingkah laku dapat disebut belajar. Perubahan tingkah laku tersebut hendaknya terjadi sebagai akibat interaksi antara individu dengan lingkungannya, bukan karena pertumbuhan fisik. Perubahan ini juga harus bersifat relatif permanen, tahan lama, dan tidak berlangsung hanya sesaat saja.
Dari pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Belajar langsung artinya siswa mengamati dan berinteraksi langsung dengan obyek yang ingin dipelajari, sedangkan belajar tak langsung artinya siswa secara aktif berinteraksi dengan media atau sumber belajar yang lain. Guru memang bukan satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas dan peranannya dalam proses belajar mengajar sangat penting. Arief et al (2011: 3) mengemukakan ”kalau ditilik dari sejarah perkembangan profesi guru, tugas mengajar sebenarnya adalah pelimpahan dari tugas orang tua karena tidak mampu lagi memberikan pengetahuan, ketrampilan dan sikap-sikap tertentu sesuai dengan perkembangan zaman”. Masalah pokok yang dihadapi mengenai belajar adalah bahwa proses belajar tidak dapat diamati secara langsung dan kesulitan untuk menentukan kepada terjadinya perubahan tingkah laku belajarnya. Kita hanya dapat mengamati terjadinya perubahan tingkah laku tersebut setelah dilakukan penilain (Oemar Hamalik, 2003: 155).
Mata pelajaran bahasa Indonesia di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan: (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, (2) menghargai dan bangga  menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, (3) memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, (4) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatajan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial, (5) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya intelektual manusia Indonesia (Permen No. 22 Tahun 2006).
Pengajaran bahasa Indonesia dijalankan melalui pendekatan komunikatif, pendekatan tematis, dan pendekatan terpadu. Pendekatan komunikatif mengisyaratkan agar pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar diorientasikan pada penguasaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi (bukan pembekalan pengetahuan kebahasaan saja). Pendekatan tematis menyarankan agar pembelajaran bahasa diikat oleh tema-tema yang dekat dengan kehidupan siswa, yang digunakan sebagai sarana berlatih membaca, mendengarkan, menulis, dan berbicara. Pendekatan terpadu menyarankan agar pembelajaran bahasa Indonesia didasarkan pada wawasan Whole Language, yaitu satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah (Edelsky, Froese, Goodman, dan Weaver (dalam Puji Santosa, dkk, 2011: 2.3)). Dengan konsep itu, dalam jangka panjang, target penguasaan kemahirwacanaan itu bisa tercapai.
Prinsip yang mendasari guru mengajarkan bahasa Indonesia sebagai sebuah keterampilan, antara lain pengintegrasian antara bentuk dan makna, penekanan pada kemampuan berbahasa praktis, dan interaksi yang produktif antara guru dengan siswa. Prinsip pertama menyarankan agar pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh, berguna dalam komunikasi sehari-hari (meaningful). Dengan kata lain, agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari, misalnya, pengetahuan tata bahasa bahasa Indonesia yang sangat linguistis. Prinsip kedua menekankan bahwa melalui pembelajaran bahasa Indonesia, siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis, serta mampu mengungkapkan gagasan dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis. Penilaian hanya sebagai sarana pembelajaran bahasa, bukan sebagai tujuan. Sedangkan prinsip ketiga mengharapkan agar di kelas bahasa tercipta masyarakat pemakai bahasa Indonesia yang produktif. Tidak ada peran guru yang dominan. Guru diharapkan sebagai ‘pemicu’ kegiatan berbahasa lisan dan tulis. Peran guru sebagai orang yang tahu atau pemberi informasi pengetahuan bahasa Indonesia agar dihindari.
Kegiatan berbahasa merupakan salah satu bagian penting dari kehidupan manusia. Siswa di sekolah dasar wajib mempelajarinya, baik yang bersifat reseptif maupun produktif. Ketrampilan berbahasa mencakup empat komponen, yakni (1) ketrampilan menyimak (listening skills), (2) ketrampilan berbicara (speaking skills), (3) ketrampilan membaca (reading skills), dan (4) ketrampilan menulis (writing skills) (Nida, Harris dan Tarigan (dalam Henry Guntur Tarigan, 2008: 1)).
Muhana Gipayana (2011: 2) menyatakan bahwa tujuan aspek mendengarkan dan membaca adalah sama-sama untuk memahami. Aspek mendengarkan bertujuan memahami wacana lisan dan aspek membaca bertujuan memahami wacana tilis. Sifatnya aktif reseptif, artinya bersifat menerima secara aktif. Sedangkan tujuan aspek berbicara dan menulis sama-sama untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi. Aspek berbicara untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara lisan dan aspek menulis secara tulis.  Dalam era modern, penguasaan bahasa tulis sangat diperlukan, namun pada kenyataannya ketrampilan menulis siswa di sekolah masih sangat kurang mendapatkan perhatian. Sedangkan sebagian besar keberhasilan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar disekolah banyak ditentukan melalui kegiatan menulis. Oleh karena itu kemampuan menulis dirasa sangat penting bagi siswa, khususnya siswa sekolah dasar.
Menulis adalah rangkaian proses berpikir. Proses berpikir berkaitan erat dengan kegiatan penalaran. Penalaran yang baik dapat menghasilkan tulisan yang baik pula. Menulis dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau mediumnya (Suparno dan Mohammad Yunus, 2008: 1.3). Salah satu kegiatan menulis yang harus digalakkan bagi siswa SD yaitu menulis karya sastra, khususnya puisi. St. Y. Slamet (2008: 97) berpendapat bahwa “menulis itu bukan hanya berupa melahirkan pikiran atau perasaan saja, melainkan juga merupakan pengungkapan ide, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman hidup seseorang dalam bahasa tulis. Oleh karena itu menulis bukanlah merupakan kegiatan yang sederhana dan tidak perlu dipelajari, tetapi justru dikuasai”.
Rachmad Djoko Pradopo (2006: 3) mengemukakan bahwa puisi sebagai sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macan aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. Dapat pula puisi dikaji dari jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam-ragam puisi. Begitu juga, puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan selalu dibaca orang. Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan, perkembangan.

Puisi itu karya estetis dan bermakna. Hal-hal yang akan dikemukakan dalam puisi itu dapat dicari melalui pemikiran atau pengamatan. Secara mudah, misalnya kita akan menulis puisi yang berhubungan tentang obyek yang ada dalam alam sekitar. Kita cukup melakukan pengamatan terhadap obyek yang akan dijadikan puisi, misalnya bunga. Dan dari hasil pengamatan itulah kemudian dipilih lalu ditentukan mana-mana yang akan diungkapkan dalam puisi.
Pembelajaran menulis puisi di SD sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan bertujuan meningkatkan keterampilan murid dalam berbahasa secara tepat dan kreatif, meningkatkan kemampuan berpikir logis dan bernalar, serta meningkatkan kepekaan perasaan dan kemampuan murid untuk memahami dan menikmati karya sastra. Selain itu, pembelajaran menulis puisi dimaksudkan agar murid terdidik menjadi manusia yang berkepribadian, sopan, dan beradab, berbudi pekerti yang halus, memiliki rasa kemanusiaan, berkepedulian sosial, memiliki apresiasi budaya dan penyaluran gagasan, berimajinasi, berekspresi secara kreatif baik secara lisan maupuan tertulis. Pembelajaran menulis puisi juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan murid dalam menikmati menghayati, dan memahami karya puisi. 
Menulis puisi sebagai salah satu aspek yang diharapkan dikuasai murid dalam pembelajaran, menekankan pada kemampuan mengekspresikan dalam bentuk sastra tulis yang kreatif dan dapat membangkitkan semangat, pikiran, dan jiwa pembaca. Dengan demikian, pembaca dapat memperoleh hikmah berdasarkan puisi yang dibaca.
Pembelajaran sastra (khususnya puisi) bertujuan untuk meningkatkan daya apresiasi siswa agar timbul rasa penghayatan terhadap nilai-nilai seni yang dikandung dalam karya tersebut. Nilai-nilai inilah yang nantinya dapat membentuk kehalusan budi seorang siswa. Dengan begitu setiap anak yang belajar sastra (khususnya puisi) akan memiliki rasa keindahan (estetik) yang memadai (Djago Tarigan, 2002: 10.42). Pembelajaran menulis puisi dapat membantu murid untuk  mengekspresikan gagasan, perasaan, dan pengalamannya. Dengan melatih murid menulis puisi, seorang guru dapat membantu murid mencurahkan isi batinnya, ide, dan pengalamannya melalui bahasa yang indah.
Keterampilan menulis puisi dirasa perlu ditanamkan kepada siswa di sekolah dasar, sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk mengapresiasikan puisi dengan baik. Mengapresiasikan sebuah puisi bukan hanya ditunjukan untuk penghayatan dan pemahaman puisi, salah satunya juga berpengaruh mempertajam kepekaan batin atau sosia (Puji Santosa, dkk., 2011: 8.33). Kemampuan tersebut ditentukan oleh beberapa faktor penting dalam proses pembelajaran menulis puisi. Selain penerapan model, metode dan media yang tepat juga yang sangat menentukan adalah peranan guru dalam proses pembelajaran terhadap siswa.
Harapan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru khusunya dalam menulis puisi ini dapat dikuasai anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah yang cukup sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan itu dikarenakan anak didik bukan hanya sebagai individu dengan segala keunikannya, tetapi mereka juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berbeda. Keluhan-keluhan guru sering terlontar hanya karena masalah sukarnya mengelola kelas. Akibat kegagalan guru mengelola kelas, tujuan pengajaran pun sukar untuk dicapai. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi, karena usaha yang dapat dilakukan masih terbuka lebar.
Untuk mengatasi masalah inilah dalam kegiatan belajar menulis puisi guru memerlukan suatu alat sebagai media untuk mentransfer ilmu pengetahuan agar pembelajaran yang diterima siswa lebih bermakna, alat inilah yang biasa disebut sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.
Dalam pembuatan ataupun pemilihan media pembelajaran biasanya guru sering mengalami berbagai kendala seperti kurangnya waktu dalam mempersiapkan membuat media, kesulitan memperoleh bahan, atau terbatasnya pilhan media yang disediakan sehingga guru enggan menggunakan media untuk menyampaikan materi. Terpaksa mereka hanya mengandalkan buku materi sebagai sumber utama dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan hasil pengamatan tanggal 31 Januari 2013 di SDN Sareng 02, dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN Sareng 02 masih dijumpai beberapa kendala, terutama untuk menulis puisi. Kendala yang terkadang ditemui oleh murid dalam menulis puisi antara lain, murid kesulitan menemukan ide, kesulitan menentukan kata-kata dalam menulis puisi, kesulitan dalam memulai menulis, kesulitan mengembangkan ide menjadi puisi karena minimnya penguasaan kosakata, dan kesulitan menulis puisi karena tidak terbiasa mengemukakan perasaan, pemikiran, imajinasinya, serta kurang mampu menghubungkan antara dunia khayal dengan dunia nyata ke dalam puisi.
Adapun pelaksanaan pembelajaran kelompok juga dirasa kurang efektif pada materi menulis puisi karena dalam pembelajaran siswa cenderung ramai membicarakan hal-hal di luar konteks pembelajaran. Tugas kelompok hanya didominasi oleh salah satu siswa saja. Siswa kurang memiliki rasa tanggung jawab, kerjasama yang baik dengan siswa lain, rasa saling percaya, saling menghargai dengan siswa lainnya dalam penyelesaian tugas kelompok di kelas. Pembelajaran kelompok yang demikian, mengakibatkan siswa kurang termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Motivasi siswa yang rendah membuat hasil belajar yang dicapai oleh siswa kurang optimal. Siswa yang benar-benar paham dengan tugas kelompok hanya siswa yang mengerjakan tugas saja. Nilai tugas akhir dan ulangan harian yang didapat siswa tidak mencapai rata-rata yang disebabkan oleh kelemahan-kelemahan pembelajaran Bahasa Indonesia khusunya pada materi menulis puisi tersebut.
Pada kesempatan kali ini peneliti mencoba memanfaatkan hal yang paling mudah ditemui dan paling sederhana untuk dijadikan sebagai media pembelajaran, yakni lingkungan alam sekitar. Lingkungan alam sekitar memiliki potensi yang sangat baik untuk menjadi inspirasi dalam mebuat sebuah karya puisi. Hanya dengan menentukan sebuah obyek di alam yg dilihat secara langsung, siswa akan mendapatkan ide sekaligus tema untuk puisi yang akan dibuat tanpa memerlukan waktu yang terlalu lama.
Sebelumnya juga pernah dilakukan penelitian yang sama berupa PTK oleh Dwi Yunitasari dengan judul ”Pemanfaatan Lingkungan Sekitar Sebagai Media Pembelajaran Untuk  Meningkatkan Hasil Belajar Menulis Puisi Dengan Tema Lingkungan Kelas V Midu Pepelegi Waru Sidoarjo”. Berdasarkan hasil observasi di kelas V Midu Pepelegi Waru Sidoarjo, diketahui bahwa banyak siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), hanya 23 siswa dari 41 siswa. Dan 56% siswa mencapai KKM dan 44%  siswa belum mencapai KKM. Padahal ketuntasan minimal (KKM) adalah 75% dari jumlah seluruh siswa dalam satu kelas tersebut harus tuntas belajar. Dengan menggunakan uji t signifikasi 5% db = N – 1 db = 41 −1 = 40, diperoleh t tabel 2,00 dan t hitung lebih besar dari t tabel yaitu 8,83> 2,00, ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik setelah memanfaatkan lingkungan sebagai media pada bidang studi Bahasa Indonesia.
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas serta penelitian bandingan yang menunjukkan adanya signifikansi, maka peneliti ingin melakukan penelitian yang sama dengan judul ”Pengaruh Pemanfaatan Media Lingkungan Alam Sekitar Terhadap Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas V SDN Sareng 02 Kecamatan Geger Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2012/2013”.

B.  Batasan Masalah
Bertolak dari latar belakang masalah tersebut maka batasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Pemanfaatan media lingkungan alam sekitar pada pembelajaran Bahasa Indonesia ini adalah lingkungan alam disekitar sekolah, sehingga diharapkan mampu menginspirasi dan mempermudah siswa dalam menentukan tema untuk menulis puisi
2.    Kemampuan menulis puisi pada pembelajaran Bahasa Indonesia ini ditekankan pada penulisan puisi kontemporer yang memiliki gaya bahasa lebih bebas dan lebih ekspresif.


C.  Rumusan Masalah
Berdasarkan  latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka peneliti dapat menuliskan rumusan masalah sebagai berikut:
“Adakah pengaruh pemanfaatan media lingkungan alam sekitar terhadap kemampuan menulis puisi siswa kelas V SDN Sareng 02, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Tahun Pelajaran 2012/2013?”

D.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui pengaruh media lingkungan alam sekitar  terhadap kemampuan menulis puisi siswa kelas V SDN Sareng 02, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Tahun Pelajaran 2012/2013.

E.  Kegunaan Penelitian
Dengan tercapainya tujuan penelitian dapat memberikan manfaat atau kegunaan. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi manfaat atau kegunaan bagi peneliti maupun orang lain. Berikut beberapa manfaat yang penulis kemukakan dalam penelitian ini:
1.        Bagi siswa
         Untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia serta kemampuan dalam menulis puisi.


2.        Bagi guru
Penelitian ini dapat membantu dalam memilih media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi pelajaran serta berguna untuk mengambil kebijaksanaan khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
3.        Bagi sekolah
a.       Sebagai bahan pertimbangan sekolah dalam pengembangan media pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa.
b.       Sebagai usaha meningkatkan standar kualitas pendidikan.
4.        Bagi peneliti
a.         Dapat memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang diajarkan.
b.         Dapat mengembangkan keterampilan, sikap dan nilai dalam pemecahan masalah.
c.         Dapat membantu siswa belajar dalam berpikir secara sistematis dalam berbagai masalah yang dihadapi.
5.        Bagi peneliti lain
Dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta sebagai acuan dalam melakukan penelitian sejenisnya dengan lingkup masalah yang lebih luas.




F.   Definisi Operasional
  1. Media lingkungan alam sekitar
Media lingkungan alam sekitar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah segala sesuatu yang ada di alam sekitar siswa berupa obyek nyata (tumbuhan, hewan, ataupun benda mati) yang dapat diamati secara langsung serta dapat membantu siswa dalam mempelajari materi yang diajarkan oleh guru khususnya dalam menulis puisi sehingga siswa merasa lebih tertarik dan bersemangat untuk melaksanakan proses pembelajaran.
2.      Kemampuan menulis puisi
Kemampuan menulis puisi yang dimaksud disini yaitu kemampuan siswa untuk mengungkapkan sebuah obyek alam yang diamati menjadi sebuah karya seni berupa puisi khususnya puisi kontemporer yang sesuai dengan kaidah-kaidah penulisannya sehingga dapat dinikmati oleh pembaca.

1.07.2013

TUGAS AKHIR PTK

-->

PENINGKATAN KEMAMPUAN DALAM PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT POSITIF DAN NEGATIF
MENGGUNAKAN MEDIA MISTAR BILANGAN
PADA SISWA KELAS IV SDN GEGER 02, MADIUN
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PROPOSAL PENELITIAN



Diajukan Oleh

OCTAFI AJI SAPUTRI
NPM 09141.161


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2012
PENINGKATAN KEMAMPUAN DALAM PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT POSITF DAN NEGATIF MENGGUNAKAN MEDIA MISTAR BILANGAN
PADA SISWA KELAS IV SDN GEGER 02, MADIUN
TAHUN PELAJARAN 2012/2013

A.    LATAR BELAKANG
Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang sangat berguna dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari – hari dan dalam upaya memahami ilmu pengetahuan lainnya. Tujuan dari pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah menekankan pada penataan nalar dan pembentukan kepribadian (sikap) siswa agar dapat menggunakan atau menerapkan  matematika dalam kehidupannya. Dengan demikian matematika menjadi matapelajaran yang sangat penting dalam pendidikan dan wajib dipelajari pada setiap jenjang pendidikan.
Pada dasarnya belajar matematika merupakan belajar konsep. Konsep pada matematika menjadi kesatuan yang bulat dan berkesinambungan. Untuk itu dalam proses pembelajaran guru harus dapat menyampaikan konsep tersebut kepada siswa dan bagaimana siswa dapat memahaminya. Pengajaran pada matematika dilakukan dengan memperhatikan urutan konsep dimulai dari yang paling sederhana.
Keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar pada pembelajaran matematika dapat diukur dari keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Keberhasilan itu dapat dilihat dari tingkat pemahaman, penguasaan materi serta prestasi belajar siswa. Semakin tinggi pemahaman dan penguasaan materi maka semakin tinggi pula prestasi belajar siswa. Namun dalam kenyataannya dapat dilihat bahwa sampai saat ini prestasi belajar matematika yang dicapai siswa masih rendah.
Rendahnya prestasi belajar matematika tidak hanya karena kesalahan siswa tetapi juga disebabkan oleh proses belajar yang tidak sesuai. Saat ini masih banyak guru yang menggunakan model pembelajaran lama pada proses pembelajaran di sekolah - sekolah. Guru menyampaikan bahan ajar tanpa mengunakan alat peraga. Hal ini mengakibatkan pemahaman murid tentang konsep bilangan bulat positif dan negatif  sangant kurang. Menjadikan siswa pasif, kurang perhatian untuk belajar kreatif dan mandiri.
Tugas dari seorang guru adalah melaksanakan pembelajaran di kelas yang diartikan sebagai suatu kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Kegiatan tersebut memerlukan pengelolaan kelas yang optimal sehingga siswa terlibat secara aktif. Kenyataan di lapangan selama ini, justru masih menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Kecenderungan tersebut diantaranya masih berlaku banyak siswa yang bersikap pasif selama pembelajaran. Mereka cenderung menunggu sajian materi dari guru daripada aktif mempersiapkan materi dan menemukan pengetahuan dan keterampilan secara mandiri. Untuk menambah pengetahuan konsep bilangan bulat positif dan negatif  dalam proses belajar mengajar guru harus menggunakan metode kontektual, oleh sebab itu sangat dianjurkan agar guru menggunakan alat peraga  ajar  setiap kali mengajar.
Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, dalam pembelajaran matematika harus digunakan metode pembelajaran yang sesuai. Salah satu metode pembelajaran yang digunakan yaitu Guru menerangakan konsep mengunakan alat peraga sederhana. Melalui metode ini siswa mampu mendefinisikan konsep, mengidentifikasi dan memberi contoh atau bukan contoh dari konsep. Oleh karena itu, siswa lebih mudah saat nmenyelesaikan soal matematika. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang peningkatan kemampuan dalam pemahaman operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif menggunakan media mistar bilangan pada siswa kelas IV SDN Geger 02, Madiun tahun pelajaran 2012/2013.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil sebuah rumusan masalah yaitu, bagaimanakah penerapan media mistral bilangan dapat meningkatkan kemampuan operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif siswa kelas IV SDN Geger 02 Madiun tahun pelajaran 2012/2013?

C.    PEMECAHAN MASALAH
untuk memecahkan masalah rendahnya kemampuan siswa dalam operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif bagi siswa kelas IV SDN Geger 02 Madiun tahun pelajaran 2012/2013, akan diterapkan penggunaan media mistar bilangan. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : (1) Peneliti akan mengajar dengan media mistar bilangan; (2) Mistar bilangan dibagi menjadi dua bagian, yang sebelah kanan adalah bilangan bulat positif dan yang sebelah kiri adalah bilangan bulat negatif; (3) Mendemonstrasikan bagaimana penggunaan mistar bilangan; (4) Siswa secara acak maju untuk mempraktikkan penggunaan mistar bilangan; (5) Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan menggambar mistar bilangan sederhana; (6) Siswa mengerjakan soal yang dibagikan secara berkelompok; (7) Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya; (8) Siswa di beri soal mandiri untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa.



D.    TUJUAN PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif siswa kelas IV SDN Geger 02 Madiun tahun pelajaran 2012/2013.

E.     MANFAAT
1.      Bagi Siswa
Penelitian tindakan kelas ini akan memudahkan siswa untuk memahami konsep pengoperasian hitung bilangan bulat positif dan negatif, khusunya untuk siswa kelas IV.
2.      Bagi Guru
Penelitian tindakan kelas ini akan membuat guru lebih kreatif dalam menciptakan media yang sederhana dan mudah dibuat.
3.      Bagi Kepala Sekolah & Dinas Pendidikan
Diharapkan melalui penelitian tindakan kelas ini, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan mau menularkan / menyebarkan penggunaan media ini sehingga akan meningkatkan kualitas siswa.



F.     KAJIAN PUSTAKA
1)      Konsep Operasi Bilangan bulat positif dan negatif
Bilangan adalah suatu konsep matematika yang digunakan untuk pencacahan dan pengukuran. Simbol ataupun lambang yang digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai angka atau lambang bilangan. Dalam matematika, konsep bilangan selama bertahun-tahun lamanya telah diperluas untuk meliputi bilangan nol, bilangan negatif, bilangan rasional, bilangan irasional, dan bilangan kompleks.
Bilangan bulat adalah suatu yang digunakan untuk menunjukkan suatu kualitas banyak atau sedikit atau ukuran (berat, ringan, panjang, pendek, keliling, luas ). Suatu objek bilangan bulat ditunjukkan dengan suatu tanda atau lambang yang disebut angka . Bilangan bulat merupakan bilangan utuh yang terdiri dari bilangan nol, bilangan asli, bilangan bulat dilambangkan dengan B
Bilangan bulat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu : bilangan nol ( 0 ), bilangan bulat negatifdan bilangan bulat positif.
1)   Bilangan bulat negatif yang ditulis (,,,,-7,-6,-5,-4,-3,-2,-1)
2)   Bilangan nol ( 0 )
3)   Bilangan bulat positif merupakan bilangan bulat yang mempunyai anggota bilangan asli ditulis (1,2,3,4,5,6,7,,,,)
Bilangan bulat dapat dilukiskan dengan garis bilangan semakin kekiri semakin kecil semakin ke kenan semakin besar.

2)         Pemahaman konsep operasi bilangan bulat positif dan negatif
Pemahaman adalah suatu proses mental terjadinya adaptasi dan transformasi ilmu pengetahuan. Langkah-langkah pembelajaran dengan mengunakan alat peraga sederhana pada operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif, yaitu:
1)         Langkah awal
a)    Apresiasi tantang bilangan bulat positif dan negatif, b) Persiapan alat peraga, c) Penjelasan tentang tujuan, d) Pemberian motivasi belajar
2)         Kegiatan inti
a)    Informasi, b) Guru mendemontrasikan alat peraga bilangan bulat positif dan negatif, c) Beberapa siswa mendemontrasikan alat peraga bilangan bulat positif dan negatif, d) Siswa secara berpasangan menerapkan alat peraga, e) Siswa mengerjakan soal mengunakan alat peraga, f) Siswa membandingkan dengan siswa lain, g) Guru memberikan kesempatan bertanya



3)         Kegiatan akhir
a)    Siswa bersama guru menyimpulkan materi pembelajaran, b) Siswa mengejakan ulangan harian, c) Siswa menuliskan refleksi belajar
a.         Media Pembelajaran sederhana
1)         Media sederhana
Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium yang secara karafiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah, segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dan sumber informasi kepada penerima informasi. Istilah media ini sangat populer dalam bidang komunikasi. Proses belajar mengajar pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam proses pembelajaran disebut media pembelajaran. Alat peraga untuk menerangkan konsep Matematika itu dapat berupa  benda nyata dan dapat pula berupa gambar atau diagramnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa alat peraga (media) adalah alat (benda) yang digunakan untuk menyampaikan pengetahuan, fakta, konsep, prinsip kepada siswa agar lebih nyata atau konkrit.
2)      Konsep alat peraga (media) sederhana
Ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki alat peraga agar fungsi atau manfaat dari alat peraga tersebut sesuai dengan yang diharapkan dalam pembelajaran. 1) Sesuai dengan konsep matematika, 2) Dapat memeperjelas konsep matematika, baik dalam bentuk real, gambar, atau diagram dan bukan sebaliknya (mampersulit pemahaman konsep matematika), 3) Tahan lama 4) Bentuk dan warna menarik, 5) Dari bahan yang aman bagi kesehatan peserta didik, 6) Sederhana dan mudah dikelola, 7) Ukuran sesuai atau seimbang dengan ukuran fusik peserta didik
Dengan demikian ada dua hal yang harus diperhatika dalam pengunaan alat peraga kelompok yakni (1) tugas-tugas perlengkapan dari alat peraga yang menjadi tangung jawab bersama. (2) melaksanakan tugas-tugas pemanfaatan alat peraga haruslah secermat mungkin, sehingga tidak terjadi penumpukan peserta didik yang pandai atau sebaliknya dalam suatu kelompok.
b.        Pembelajaran Operasi Bilangan Bulat Positif dan Negatif dengan Media Mistar Bilangan
Langkah-langkah pembelajaran dengan mengunakan alat peraga mistar bilangan pada operasi hitung bilangan bulat positif dan negatif, yaitu:
Kegiatan inti
a)         Informasi : bilangan bulat positif dan negatif, operasi penjumlahan bilangan bulat positif dan negatif, dan alat peraga mistar bilangan.
b)         Guru mendemontrasikan alat peraga mistar bilangan untuk menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif, menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negatif, menjumlahkan bilangan bulat negative dengan bilangan bulat positif.
c)         Beberapa siswa mendemontrasikan alat peraga mistar bilangan untuk menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat positif, menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat negative, menjumlahkan bilangan bulat negative dengan bilangan bulat positif.
d)        Siswa berpasangan dengan teman sebangku. Seorang siswa menempatkan diri di sisi papan mistar bilangan positif  dan seorang lagi menempatkan diri di sisi mistar bilangan negative. Orang-orangan akan menengok ke kanan jika bertemu tanda positif, menengok ke kiri jika bertemu tanda negative, kemudian berjalan kedepan sesuai angka yang ditentukan.
Contoh:
1)         Menjumlahkan bilangan bulat positif dan bilangan bulat positif.
Diberikan soal 4+3, maka siswa menyiapkan alat peraga mistar bilangan dan orang-orangan ( untuk menemukan hasil akhir)
a.         Siswa meletakkan orang-orangan di posisi nol.
b.         Orang-orangan dijalankan empat langkah ke kanan, kemudian tiga langkah lagi ke kanan.
c.         Hasil akhirnya orang-orangan tersebut akan berhenti di angka 7.
2)      Menjumlahkan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat negative.
Diberikan soal -4+(-3), maka siswa menyiapkan alat peraga mistar bilangan dan dan orang-orangan ( untuk menemukan hasil akhir)
a.          Siswa meletakkan orang-orangan di posisi nol.
b.          Karena di awal terdapat tanda negative, orang-orangan di hadapkan kea rah kiri, kemudian berjalan 4 langkah ke kiri.
c.          Kemudian terdapat tanda positif, maka orang-orangan di arahkan ke kanan.
d.         Setelah tanda positif, terdapat tanda negative maka orang-orangan dihadapkan kembali ke arah kiri kemudian berjalan sebanyak 3 langkah.
3)      Menjumlahkan bilangan bulat positif dan negatif positif dengan bilangan bulat positif dan negatif negatif
Diberikan soal 7+(-4), maka siswa menyiapkan alat peraga mistar bilangan dan dan orang-orangan ( untuk menemukan hasil akhir)
a.         Siswa meletakkan orang-orangan di posisi nol.
b.         Orang-orangan dijalankan 7 langkah ke kanan.
c.         Bertemu tanda positif, orang-orangan tetap di posisi. Kemudian bertemu tanda negative, orang-orangan menengok ke kiri kemudian berjalan empat langkah ke kiri.
d.        Hasil akhirnya orang-orangan berhenti di posisi angka  tiga.
e)         Siswa membandingkan dengan siswa lain
f)          Guru memberikan kesempatan bertanya




G.    METODE PENELITIAN
1.        Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan tiap siklus terdiri dari : perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing) dan refleksi (reflecting). Model pelaksanaannya “guru sebagai peneliti” dengan acuan model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis & Taggart (1990).
2.      Tempat dan Waktu Penelitian
a.         Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 02 Geger, Madiun yang beralamatkan di Jalan Raya Dagangan. Peneliti mengadakan penelitian di SDN 02 Geger dengan pertimbangan bahwa sekolah ini belum pernah dilakukan penelitian dengan judul yang sama dengan peneliti.
b.        Waktu penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2012/2013. Adapun rincian waktu penelitian sebagai berikut.
1)             Tahap Persiapan : minggu ke II bulan Februari sampai minggu ke III bulan Februari 2013.
2)             Tahap Pelaksanaan : minggu ke III bulan Februari sampai minggu ke IV bulan Maret 2013.
3)             Tahap Analisis Data : minggu ke I bulan Maret sampai minggu ke IV bulan Maret 2013.
4)             Tahap Laporan : minggu ke I bulan April sampai minggu ke I bulan Mei 2013.



3.        Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti adalah guru matematika yang bertindak sebagai subyek yang memberi tindakan. Seluruh siswa kelas 4 SDN Geger 02 Madiun tahun ajaran 2012/2013 sebagai subjek yang menerima tindakan. Peneliti dibantu kepala sekolah dan mitra guru matematika sebagai observer.
4.        Rancangan Penelitian
Adapun rancangan penelitian pada kegiatan penelitian ini digambarkan sebagai berikut :


Siklus dari Suharsimi Arikunto
Gambar 3.1 Siklus Pelaksanaan Penelitian
Tahap Perencanaan meliputi :
1)        Refleksi Awal
Refleksi awal dimulai dari studi pendahuluan untuk menentukan subjek penelitian  membuat tes awal untuk memperoleh gambaran pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa.
2)         Rumusan Penelitian
Kegiatan yang dilakukan adalah menentukan tujuan pembelajaran, menyusun kegiatan pembelajaran yang mengarah pada pemahaman konsep penjumlahan bilangan bulat positif dan negatif, menyiapkan alat peraga yang dibutuhkan, menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan oleh pengamat.
3)             Tahap Pelaksanaan
Tindakan Pelaksanaan tindakan yang dimaksudkan adalah melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran untuk membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman konsep penjumlahan bilangan bulat positif dan negatif yang dilaksanakan secara klasikal dan berfokus pada subjek penelitian. kegiatan ini dilakukan oleh guru sendiri atau oleh guru yang mengajar di kelas IV, dan direncanakan dilakukan dalam 2 kali pertemuan.
4)             Tahap Observasi
Kegiatan observasi yang dimaksudkan adalah kegiatan mengamati aktivitas siswa antara lain memanipulasi alat peraga, bertanya, mengerjakan LKS, dan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Sedangkan aktivitas guru yang perlu diamati antara lain berupa merenspon pertanyaan siswa, membimbing siswa yang mengalami kesulitan. Kegiatan ini dilakukan selama pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang disiapkan oleh peneliti.



5)        Tahap Refleksi
Pada tahap refleksi kegiatan peneliti adalah menganalisis, memahami, menjelaskan dan menyimpulkan hasil dari pengamatan. Peneliti bersama pengamat menganalisis dan merenungkan hasil tindakan pada siklus tindakan sebagai bahan pertimbangan apakah pemberian tindakan yang dilakukan perlu diulangi atau tidak. Jika perlu diulangi, maka peneliti menyusun kembali rencana untuk siklus berikutnya. Demikian seterusnya hingga siswa memperoleh skor minimal 65 %.

5.        Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penlitian ini adalah sebagai berikut
1.         Observasi
Observasi dilakukan untuk mengamati gejala-gejala yang tampak dalam proses pembelajaran, keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, ketertarikan siswa terhadap media serta bagaimana siswa menggunakan media itu sendiri.
2.         Tes
Tes dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang pemahaman siswa pada operasi penjumlahan bilangan bulat positif dan negatif. Tes dilakukan pada awal penelitian dan pada akhir setiap tindakan.
3.         Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah konkrit yang dipraktikkan guru (peneliti) dalam proses pembelajaran. Dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini mencakup dukumentasi foto dan dokumentasi portofolio siswa.



H.      DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Penerbit Alfabeta
Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tidakan Kelas. Jakarta : Penerbit PT Bumi Aksara.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 2006 Mata Pelajaran Matematika Untuk Tingkat SD/MI. Jakarta Depdiknas.

VHEE © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute