Telah lama aku bertahan
Demi cinta wujudkan sebuah harapan
Namun ku rasa cukup ku menunggu
Semua rasa tlah hilang
Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi
Namun ku rasa cukup ku menunggu
Semua rasa tlah hilang
Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi
Dahulu kaulah segalanya
Dahulu hanya dirimu yang ada di hatiku
Namun sekarang aku mengerti
Tak perlu ku menunggu sebuah cinta yang sama
Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi
Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi
5.22.2012
RAISA - APALAH ARTI MENUNGGU
12.12.2011
ATHEIS
Setelah sekian lama tak berjumpa, tiba-tiba saja Rusli datang menemui Hasan di tempat kerjanya, di Jawatan Air Kotapraja, Bandung. Perjumpaan yang tiada terduga itu begitu istimewa bagi Hasan. Rusli tak datang seorang diri. Dia bersama seorang wanita bernama Kartini. Wajah Rukmini yang meninggalkan Hasan sebab dinikahi oleh saudagar kaya dari Jakarta seolah menjelma kembali. Ia begitu terpesona melihat Kartini yang mirip dengan wanita yang pernah dicintainya itu.
Sejak itu kehidupan Hasan menjadi berubah. Kehidupan Rusli dan Kartini yang terlalu bebas, menggugah kesadarannya. Ia ingin menyadarkan kedua orang itu. Namun, pengetahuan Hasan tak sebanding dengan Rusli. Ia serupa dengan orang yang hendak membersihkan seluruh kota dengan sebatang lidi. Justru Ruslilah yang balik mempengaruhi Hasan. Di hadapan seorang matrialis yang selalu memandang sesuatu berdasarkan logika semata itu, Hasan tak berdaya. Perlahan tapi pasti Rusli mampu mengoyahkan sendi-sendi keimanan Hasan.
Kehadiran Anwar kian kengukuhkan ketergoyahan Hasan. Ia akhirnya melepas keimanannya, menjadi seorang atheis. Akibat pertemanannya dengan Anwar pulalah, Hasan berani menentang ayahnya. Terlebih, ketika ia memutuskan untuk menikahi Kartini. Hasan seperti tanaman yang tercerabut dari akarnya. Ia menanggalkan keimanan serta meninggalkan kedua orang tuanya.
Kehidupan rumah tangga Hasan dan Kartini tidak berlangsung lama. Kehadiran Anwar di tengah-tengah pasangan suami istri itu menjadi percik api di atas tumpahan minyak tanah. Biar bagaimana pun, pandangan Anwar terhadap Kartini patut dicurigai. Hasan merasa cemburu. Di tengah keadaan yang demikian, kenangan-kenangan masa kecilnya hadir kembali. Cerita-cerita tentang siksa neraka membuat Hasan kian gelisah. Ia terus dihantui persaan berdosa. Sampa pada puncaknya, Hasan dan Kartini mengambil keputusan untuk bercerai.
Bayang-bayang siksa neraka kian mewujud, ketika ayahnya meninggal, Hasan tak beroleh maaf darinya. Ia kian galau. Dan Anwar adalah penyebabnya. Kemarahan Hasan tiada lagi dapat dibendung. Dia keluar mencari Anwar untuk membuat perhitungan dengannya. Pada saat yang berasamaan, gaung sirine tanda bahaya memecah kegelapan malam. Namun Hasan tak peduli. Ia terus melangkah. Sampai ia merasa ada sebutir peluru yang menembus dadanya.
ITU BAIK!!!
Ini kisah persahabatan dua anak manusia. Yang seorang adalah putra presiden, dan yang lain pemuda rakyat jelata bernama Pono. Persahabatan ini sudah terjalin sejak mereka masih dibangku sekolah. Pono punya kebiasaan yang kadang menjengkelkan. Apa pun peristiwa yang terjadi didepannya selalu dianggap positif. “Itu baik!” katanya senantiasa.
Hari itu seperti yang sering mereka lakukan, Pono menemani sahabatnya berburu. Tugasnya membawa senapan dan mengisi peluru agar selalu siap digunakan. Entah kenapa, setelah diserahkan kepada sahabatnya senapan itu meletus. Akibatnya cukup fatal, ibu jari putra presiden terkena terjangan peluru dan putus. Melihat itu tanpa sadar dengan kalemnya Pono berkomentar “Itu Baik!” Kontan sahabatnya naik pitam.
“Bagaimana Kau ini! Jempolku putus tertembak, malah dibilang baik, brengsek!”
Agaknya, kali ini kelakuan Pono tak termaafkan. Iapun dijebloskan ke dalam penjara.
Beberapa bulan kemudian, sang putra presiden kembali pergi berburu ke Afrika. Malang, ia tersesat di hutan lebat dan ditangkap suku primitif yang masih kanibal.
Malam harinya, dalam keadaan terikat ia akan dibakar untuk disantap ramai-ramai. Anehnya, mendadak ia dibebaskan. Belakangan ketahuan, suku tersebut pantang memangsa makhluk yang organ tubuhnya tidak lengkap.
Nasib baik itu membuat putra sang presiden termenung. Ia teringat kembali peristiwa ketika jempolnya putus tertembak lantaran ulah Pono. Ia kemudian menemui Pono di penjara.
“Ternyata Kau benar. Ada baiknya jempolku tertembak,” katanya sambil menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya di Afrika.
“Aku menyesal telah memenjarakanmu”.
“Oh, tidak!, bagiku, ini baik!”
“Bagaimana kau ini? Memenjarakan teman kau bilang baik?”
“Kalau aku tidak dipenjara, pasti saat itu aku bersamamu”
“??!!!,”
11.10.2011
Sekelompok Ilmuwan Berhasil Menemukan Letak Terompet Malaikat Isrofil

Sekitar enam tahun silam sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman melakukan observasi terhadap alam
semesta untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini sebab prediksi yang umum selama ini mengatakan bahwa alam semesta berbentuk bulat bundar atau prediksi lain menyebutkan bentuknya datar saja.
Menggunakan sebuah peralatan canggih milik NASA yang bernama “Wilkinson Microwave Anisotropy Prob” (WMAP), mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang sangat mencengangkan karena menurut hasil penelitian tersebut alam semesta ini ternyata berbentuk seperti terompet.
Di mana pada bagian ujung belakang terompet (baca alam semesta) merupakan alam semesta yang tidak bisa diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable)
Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid 1 hal. 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.
Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda :“Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Isrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah". Saya bertanya : “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?” Jawab Rasulullah : “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya tanya : “Bagaimana besarnya?” Jawab Rasulullah : “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali. Pertama : Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan). Kedua : Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”
Dalam hadits di atas disebutkan bahwa sangkakala atau terompet malaikat Isrofil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya. Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. Bentuk laksana tanduk mengingatkan kita pada terompet orang – orang jaman dahulu yang terbuat dari tanduk.
Kalimat seluas langit dan bumi dapat dipahami sebagai ukuran yang meliputi/mencakup seluruh wilayah langit (sebagai lambang alam tak nyata/ghoib) dan bumi (sebagai lambang alam nyata/syahadah). Atau dengan kata lain, bulatan terompet malaikat Isrofil itu melingkar membentang dari alam nyata hingga alam ghoib.
Jika keshohihan hadits di atas bisa dibuktikan dan data yang diperoleh lewat WMAP akurat dan bisa dipertanggungjawabkan maka bisa dipastikan bahwa kita ini bak rama – rama yang hidup di tengah – tengah kaldera gunung berapi paling aktif yang siap meletus kapan saja.
Dan Allah telah mengabarkan kedahsyatan terompet malaikat Isrofil itu dalam surah An Naml ayat 87 : “Dan pada hari ketika terompet di tiup, maka terkejutlah semua yang di langit dan semua yang di bumi kecuali mereka yang di kehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri.”
Makhluk langit saja bisa terkejut apalagi makhluk bumi yang notabene jauh lebih lemah dan lebih kecil. Pada sambungan hadits di atas ada sedikit preview tentang seperti apa keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak.
“Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya, yang menyusui lupa pada bayinya, anak – anak jadi beruban dan setan – setan berlarian.”
Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik, jika terompetnya saja sebesar itu, bagaimana dengan peniupnya dan bagaimana pula Sang Pencipta keduanya? Maha Besar Engkau Ya Allah, Allahu Akbar!
